Langsung ke konten utama

Kenapa Ga Cerita?

Pertanyaan yang sering diterima dari temen-temen deket. Temen-temen yang udah sering banget curhat soal masalah mereka, seperti sebuah transaksi mereka juga ingin aku terbuka. Tapi sulit, percayalah aku sudah sering mencoba, beberapa kali aku berusaha berfikir bahwa ini bisa aku ceritakan. Tapi memang tidak semua orang dengan mudah untuk aku percaya. Bukan soal seberapa tidak pentingnya seseorang sehingga aku belum bisa percaya terhadapnya, tapi ini soal seberapa kuatnya aku akan bisa menerima respon yang akan diberikan setelah aku cerita berkeluh kesah.

Awalnya ga tau harus ngomong dari mana, belum tau akar masalahnya apa, belum bisa memahami diri sendiri. Ketika itu ga mau jadi malah salah ngomong sehingga membuat orang berpandangan yang berbeda dan bahkan diakhiri dengan respon yang ga diharapkan. Seringnya masalah yang dihadapi hanya sekedar angin lalu, cukup direnungkan sendiri setelah itu hilang sudah bahkan mengenai memorinya. Kadang bener-bener sampe lupa kemarin sedih karena apa, karna otak memberikan sugesti untuk melupakan pada diri sendiri, jadi ketika ada yang bertanya kenapa sudah lupa semua masalahnya dan bingung untuk menjawab dan akhirnya hanya keluar kata "gapapa kok".

Sekarang, mulai bisa menemukan orang-orang yang bisa diajak untuk bertukar cerita, tapi mungkin masih bingung bagaimana menjadi teman cerita yang baik. Masih ngerasa bukan menjadi teman cerita yang baik, mungkin karena sebagian sifatku yang phlegmatis ini atau bisa dibilang apatis. Jadi ketika aku tidak bisa menjadi teman cerita yang baik dan transaksi itu tidak dapat berjalan dengan baik, kadang aku memilih untuk bahkan tidak melakukan transaksi dari awal. Ketakutan. Semua berlandaskan dari ketakutan. Terlalu takut, terlalu khawatir, dan akhirnya terlalu tidak percaya.

Dan sekarang akibatnya? Sedikit sekali orang yang percaya kepadaku. Dulu aku merasakan banyak sekali orang-orang yg dapat cerita dengan terbuka tentang masalahnya terhadapku tanpa harus aku juga menceritakan sesuatu tentang hidupku. dan kepercayaan mereka memberikan sebuah energi posistif diluar aku bisa memberikan mereka solusi atau tidak. Tapi sekarang, tidak semudah itu untuk mendapatkan kepercayaan itu lagi. Terlalu sulit untuk aku yang tidak terbiasa bercerita untuk membalas keterbukaan mereka. Hingga akhirnya tidak ada energi positif lagi yang dapat memberi warna dalam hidup ini. Polos. Seperti ini hanya sebuah udara hampa tanpa adanya kehidupan. Sedih iya. Terlalu bingung apa yang salah dan harus dibenahi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menangis Dapat Menyelesaikan Masalah

            Masalah menjadi hal yang sering terjadi dalam hidup kita. Sebagai manusia menyelesaikan masalah adalah hal yang wajib untuk dapat meneruskan hidup. Dengan masalah yang begitu beragam, kita sering sekali tidak tahan dalam menghadapinya. Bahkan terkadang kita meneteskan air mata ketika masalah itu membuat diri kita tidak berdaya. Beberapa orang beranggapan menangis adalah tindakan bodoh, dan berkata bahwa menangis tidak dapat menyelesaikan masalah. Faktanya sekitar 89% orang merasa lebih baik sesaat setelah menangis. Beberapa ahli mengatakan air mata yang dihasilkan karena emosi mengandung 24% protein albumin yang berguna meregulasi sistem metabolisme tubuh, dan dapat meningkatkan mood seseorang. Terlalu banyak kadar mangan juga dapat meningkatkan kecemasan, kegelisahan, lekas marah, kelelahan, dan perasaan negatif lainnya. Menangis menurunkan kadar mangan tersebut, dan membuat seseorang lebih merasa tenang. Menangi...

Kuliah Kerja N..gapain aja sih?

KKN bersama 10 orang satu jurusan yang sama tetapi beda pergaulan ini memang tak perlu lagi adanya pdkt, hanya butuh sedikit penyesuaian dengan lingkungan. Yang dikhawatirkan adalah mood ini yang tidak bisa selalu diajak kompromi selama 40 hari dengan orang-orang yang selama ini mungkin tidak terlalu mengenali kemoodyan dan besarnya kegengsian ini. 9 orang berangkat tepat setelah pelepasan di kampus, berbeda denganku yang harus terlebih dahulu membantu pelaksanaan pertandingan bulutangkis dikampus. Baru mulai sudah menghabiskan jatah izin 4 hari, tak ada senang atau sedih yang pasti tak ada pilihan lain. Menepati janji teman untuk membantu pelaksanaan hajat besar ukmnya itu menjadi rasa tidak enak terhadap teman-teman KKN yang bukan orang baru. Menyusul ke posko dengan 5000 rupiah tiket kereta lokal menuju stasiun padalarang menjadi pengalaman baru lagi. Seru. Datang dengan keadaan hati yang cukup baik walaupun sebelumnya mendapatkan kejadian yang luar biasa mengagetkan. Disambut bai...

Narative "The Legend of Malin Kundang"

  Pasti udah biasa kalo disekolah bahasa inggris belajar tentang narative, waktu SMP saya pernah disuruh untuk mencari sebuah narative. Narative dibawah ini yang berjudul 'The Legend of Malin Kundang' menjadi pilihan saya. The Legend of Malin Kundang             A long time ago, in a small village near the beach in West Sumatra, a women and her son lived. They were Malin Kundang and her mother. Her mother was a single parent because Malin Kundang’s father had passed away when he was a baby. Malin Kundang had to live hard with his mother. Malin Kundang was a healthy, diligent, and strong boy. He usually went to sea to catch fish. After getting fish he would bring it to his mother, or sold the caught fish in the town. One day, when Malin Kundang was sailing, he saw a merchant’s ship which was being raided by a small band of pirates. He helped the merchant. With his brave and power, Malin Kundang defeated the pirates...