Langsung ke konten utama

Lebah Si Penghasil Madu, Lebah Si Pekerja Keras



Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang. Jika kita membayar pajak itu berarti kita ikut serta dalam pembangunan negara. Karena setiap pajak yang kita bayar nantinya akan membiayai pembangunan daerah – daerah di Indonesia. Dengan begitu negara sangat dibantu dengan kita membayar pajak. Jika kita rutin membayar pajak, kegiatan – kegiatan negara akan terlaksana dengan baik dalam bidang apapun. Seperti, politik, sosial, budaya dan yang lainnya.
Sekarang ini lebah manjadi logo dalam iklan perpajakan. Lebah dipilih karena lebah dikenal sebagai serangga pekerja keras dan menghisap madu dari bunga tanpa merugikan, bahkan lebah dapat membantu sang bunga dalam perkembang biakannya untuk menyebarkan benih. Inilah yang dituju oleh Direktorat Jenderal Pajak, dengan membayar pajak wajib-pajak tidak merasa dirugikan. Sebaliknya, merasa lebih diuntungkan.
Dari dulu Departemen Perpajakan memiliki iklan-iklan yang menarik perhatian dan terkadang mengocok perut dengan kata-kata yang menyindir para wajib pajak yang tidak melaksanakan kewajibannya. Masih ingat dengan kata-kata “Apa kata dunia?”, kata yang pendek tetapi mudah diingat oleh rakyat indonesia sebagai wajib pajak.
Iklan pajak selalu menyindir dalam kata-katanya, seperti “Punya NPWP malah dikejar-kejar seperti koruptor APA KATA DUNIA?”, “Mau fasilitasnya tapi tak mau bayar pajaknya APA KATA DUNIA?” atau “Hari gini ga mau bayar pajak APA KATA DUNIA?”. Kata-kata yang menarik dan tepat sasaran. Itu hanya iklan dalam baligo-baligo besar, belum lagi iklan yang ada dalam televisi swasta dengan cerita yang sangat dekat dengan rakyat Indonesia. Kebanyakan iklan pajak menguraikan cara membayar pajak yang baik dan benar, menggambarkan manfaat pajak, menggambarkan akibat kita tidak membayar pajak dan menerangkan bahwa membayar itu mudah.
Contohnya cerita 3 orang anak yang menyombongkan orangtuanya masing-masing. Anak pertama berkata “Papaku beli motor baru”, anak kedua “Papaku mobilnya yang baru” dan anak ketiga berkata “Bapakku punya jalan dan jembatan”, anak pertama dan kedua serempak berkata “Hah, ga mungkin”, lalu anak ketiga menjawab “Bapakku kan bayar pajak penghasilan”. Setelah adegan itu seorang Bapak membonceng anaknya dengan sepeda motor sambil berkata “Kita wajib bayar pajak nak”. Lalu narator menjelaskan bahwa nantinya pajak yang dibayar akan digunakan untuk kepentingan rakyat. Iklan ini diakhiri dengan kalimat “Hari gini ga bayar pajak penghasilan APA KATA DUNIA?”.
Iklan ini menarik bukan? Cerita lucu dua orang anak yang menyombongkan orangtuanya malah terkalahkan oleh seorang anak wajib pajak yang bangga karena ayahnya telah rutin membayar pajak. Cerita yang benar - benar dekat dengan rakyat Indonesia. Dalam cerita ini juga ditjen pajak secara tidak langsung memperkenalkan pajak pada anak-anak sebagai penerus bangsa yang nantinya juga memiliki kewajiban membayar pajak.
Salah satu iklan pajak lainnya menceritakan seorang pegawai pajak yang bangga menjadi pegawain Ditjen Pajak dan memiliki perjalanan yang berliku-liku dengan berbagai godaan, tetapi pegawai pajak ini memiliki keimana yang kuat. Kata - kata dalam iklan tersebut ialah, “Betapa aku bangga dan bersyukur dapat menggemban tugas mulia ini, namun jalan berliku membentang didepan, berbagai rintangan dan tantangan membayangi setiap langkahku” dan pada kalimat berikutnya dengan nada yang lebih ditinggikan “Aku harus teguh tak boleh runtuh, terus melangkah tak akan menyerah karena aku tahu    aku tak pernah sendiri. Setiap langkahku setiap genggam anganku selalu ada tempat mengadu, selalu ada tangan maha kokoh yang siap membimbingku demi mewujudkan cita-cita bersama. Bangsa yang sejahtera.”
Menggambarkan pegawai yang selalu semangat dalam pekerjaannya, memiliki pendirian teguh dan tidak tergoda atas nikmatnya dunia. Cerita iklan ini seolah mengiyakan bahwa selalu saja ada orang-orang yang ingin berlicik dalam proses perpajakan. Tetapi pegawai dalam iklan ini menolak dan melakukan kewajibannya dengan benar. Iklan ini sedikit membuat rakyat Indonesia bangga dengan pegawai yang ada dalam iklan tersebut.Tapi cerita tersebut adalah iklan.
Iklan sangan penting dalam sosialisasi kepada masyarakat, karena media ini dapat menghubungkan Departemen Perpajakan dengan masyarakat secara tidak langsung. Ditjen Pajak dapat menyampaikan pesannya kepada para wajib pajak untuk melaksanakan kewajibannya. Dengan iklan yang sedikit menyindir ini membuat wajib pajak tersindir dan langsung ingat kepada kewajibannya.
Tetapi tidak semua wajib pajak tersihir oleh iklan ini. Sebagian wajib pajak malas untuk membayar pajak karena mereka beranggapan membayar pajak adalah suatu hal yang tidak akan memberi keuntungan bagi mereka. Pajak yanng mereka bayar tidak akan kembali kepada rakyat sesuai dengan yang seharusnya, tapi malah tersendat dikantor perpajakan. Pemikiran itu yang menghambat wajib pajak untuk membayar pajak.
Beberapa kasus pajak mempengaruhi pemikiran wajib pajak. Seperti kasus terbesar yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu kasus mafia pajak Gayus Tambunan. Karyawan Dirjen Pajak ini malah mengambil uang yang seharusnya kembali ke rakyat. Ia mengambil hak rakyat sekitar Rp. 100 Milyar. Sejumlah uang yang seharusnya memberi makan rakyat miskin, menyekolahkan anak-anak kurang mampu, dan banyak lagi yang bisa dibantu dengan uang itu.
Bahkan Gayus bertindak seolah - olah tidak bersalah. Ia kedapatan sedang menonton pertandingan tenis di Bali. Kejadian ini sangan menghebohkan Indonesia, Gayus yang seharusnya berada di penjara malah dengan santainya pergi ke Bali. Sedangkan beberapa rakyat Indonesia kebingungan untuk mencari makan. Tindakan Gayus ini membuat rakyat Indonesia gerah dan tidak lagi mempercayai Ditjen Pajak.
Selain kasus ini masih banyak lagi gayus- gayus yang memakan uang rakyat baik itu yang sudah tertangkap ataupun yang masih berkeliaran di luar sana. Rakyat Indonesia berharap orang-orang seperti itu segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya. Rakyat Indonesia juga berharap Ditjen Pajak bisa memberikan peringatan pada pegawai-pegawainya agar tidak bertindak merugikan rakyat.
Seperti kasus Dhana Widiatmika, seorang mantan pegawai Ditjen Pajak ini teridentifikasi memiliki milyaran uang di rekeningnya. Setelah diselidiki, penyidik menemukan dokumen, sertifikat, uang dalam pecahan rupiah dan dollar, serta logam mulia berupa emas yang saat ini sudah disita penyidik.
Jika terus seperti ini lambang lebah yang digunakan Ditjen Pajak tidak ada gunanya. Mungkin para mafia pajak seorang pekerja keras tetapi satu yang dilupakannya, lebah seharusnya menguntungkan bungan tetapi ini malah merugikan dan tidak memperhatikan kehidupan sang bunga.Tentunya ini bukan tujuan dari adanya pajak.
Bagaimana rakyat Indonesia percaya pada Ditjen Pajak jika pegawai didalamnya selalu kedapatan korupsi? Seseorang tidak akan menitipkan barang berharganya kepada orang yang sudah terbukti akan mengambil barang berharganya tersebut. Bukankan pemikiran rakyat Indonesia ini suatu hal yang wajar?
Tetapi Ditjen Pajak tidak mau begitu saja menerima rakyat Indonesia tidak mempercayai mereka lagi. Ditjen pajak menggunakan iklan-iklan yang menarik dan menyindir tidak hanya wajib pajak tetapi juga para pelaku korupsi. Sekarang juga iklan pajak semakin beragam dan cukup membuat rakyat Indonesia kembali percaya. Selain iklan, strategi yang diambil Ditjen Pajak juga menjurus untuk memperkenalkan pada pemuda Indonesia sebagai penerus wajib pajak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menangis Dapat Menyelesaikan Masalah

            Masalah menjadi hal yang sering terjadi dalam hidup kita. Sebagai manusia menyelesaikan masalah adalah hal yang wajib untuk dapat meneruskan hidup. Dengan masalah yang begitu beragam, kita sering sekali tidak tahan dalam menghadapinya. Bahkan terkadang kita meneteskan air mata ketika masalah itu membuat diri kita tidak berdaya. Beberapa orang beranggapan menangis adalah tindakan bodoh, dan berkata bahwa menangis tidak dapat menyelesaikan masalah. Faktanya sekitar 89% orang merasa lebih baik sesaat setelah menangis. Beberapa ahli mengatakan air mata yang dihasilkan karena emosi mengandung 24% protein albumin yang berguna meregulasi sistem metabolisme tubuh, dan dapat meningkatkan mood seseorang. Terlalu banyak kadar mangan juga dapat meningkatkan kecemasan, kegelisahan, lekas marah, kelelahan, dan perasaan negatif lainnya. Menangis menurunkan kadar mangan tersebut, dan membuat seseorang lebih merasa tenang. Menangi...

Kuliah Kerja N..gapain aja sih?

KKN bersama 10 orang satu jurusan yang sama tetapi beda pergaulan ini memang tak perlu lagi adanya pdkt, hanya butuh sedikit penyesuaian dengan lingkungan. Yang dikhawatirkan adalah mood ini yang tidak bisa selalu diajak kompromi selama 40 hari dengan orang-orang yang selama ini mungkin tidak terlalu mengenali kemoodyan dan besarnya kegengsian ini. 9 orang berangkat tepat setelah pelepasan di kampus, berbeda denganku yang harus terlebih dahulu membantu pelaksanaan pertandingan bulutangkis dikampus. Baru mulai sudah menghabiskan jatah izin 4 hari, tak ada senang atau sedih yang pasti tak ada pilihan lain. Menepati janji teman untuk membantu pelaksanaan hajat besar ukmnya itu menjadi rasa tidak enak terhadap teman-teman KKN yang bukan orang baru. Menyusul ke posko dengan 5000 rupiah tiket kereta lokal menuju stasiun padalarang menjadi pengalaman baru lagi. Seru. Datang dengan keadaan hati yang cukup baik walaupun sebelumnya mendapatkan kejadian yang luar biasa mengagetkan. Disambut bai...

Narative "The Legend of Malin Kundang"

  Pasti udah biasa kalo disekolah bahasa inggris belajar tentang narative, waktu SMP saya pernah disuruh untuk mencari sebuah narative. Narative dibawah ini yang berjudul 'The Legend of Malin Kundang' menjadi pilihan saya. The Legend of Malin Kundang             A long time ago, in a small village near the beach in West Sumatra, a women and her son lived. They were Malin Kundang and her mother. Her mother was a single parent because Malin Kundang’s father had passed away when he was a baby. Malin Kundang had to live hard with his mother. Malin Kundang was a healthy, diligent, and strong boy. He usually went to sea to catch fish. After getting fish he would bring it to his mother, or sold the caught fish in the town. One day, when Malin Kundang was sailing, he saw a merchant’s ship which was being raided by a small band of pirates. He helped the merchant. With his brave and power, Malin Kundang defeated the pirates...