Langsung ke konten utama

Masalahmu adalah masalahmu, masalahku adalah masalahku

Saya mencoba selalu berada di depan pintu rumahmu. Seperti yang kamu lakukan ketika saya dalam keadaan yang tidak menenangkan. Saya ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang kamu lakukan untuk saya. Ketika kamu memiliki masalah didalam rumah tersebut, saya mendengar kamu berteriak. Saya ingin mencoba masuk tapi kunci rumah itu hanya kamu yang punya. Saya berteriak mencoba untuk membantu. Tapi yang kamu katakan hanya bahwa kamu memiliki masalah yang sangat besar. Saya tidak tau apa itu. Saya hanya menerka-nerka, mencoba membantu dan memberikan solusi dari luar. Saya hanya ingin memastikan kamu tidak melakukan hal yang menyakiti diri kamu sendiri. Percayalah sekuat kemampuan saya akan selalu mencoba bertahan tepat didepan pintu walau yang punya keputusan pintu itu dibuka atau tidak hanya kamu sang pemilik rumah.

Lalu apa yang saya lakukan ketika saya yang ada diposisi kamu sehingga saya berfikir untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang kamu lakukan ke saya? Ketika saya berada dirumah saya dan berteriak minta tolong. Kamu selalu ada didepan pintu tanpa mengatakan apapun. Saya selalu menemukan kamu didepan pintu rumah saya walau hanya terdiam. Saya membuka pintu rumah saya tapi bukan untukmu, untuk diri saya sendiri. Sehingga saya keluar membawa suatu masalah yang ingin saya tunjukan padamu tanpa membiarkanmu melihat seisi rumah saya yang mungkin lebih berantakan dibandingkan masalah yang saya bawa keluar. Tapi kamu membantu saya memperbaiki masalah yang saya bawa keluar itu sehingga ketika saya sendiri kembali masuk kedalam rumah saya sudah tau cara memperbaiki sedikit demi sedikit semua kekacauan saya yang ada didalam rumah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kuliah Kerja N..gapain aja sih?

KKN bersama 10 orang satu jurusan yang sama tetapi beda pergaulan ini memang tak perlu lagi adanya pdkt, hanya butuh sedikit penyesuaian dengan lingkungan. Yang dikhawatirkan adalah mood ini yang tidak bisa selalu diajak kompromi selama 40 hari dengan orang-orang yang selama ini mungkin tidak terlalu mengenali kemoodyan dan besarnya kegengsian ini. 9 orang berangkat tepat setelah pelepasan di kampus, berbeda denganku yang harus terlebih dahulu membantu pelaksanaan pertandingan bulutangkis dikampus. Baru mulai sudah menghabiskan jatah izin 4 hari, tak ada senang atau sedih yang pasti tak ada pilihan lain. Menepati janji teman untuk membantu pelaksanaan hajat besar ukmnya itu menjadi rasa tidak enak terhadap teman-teman KKN yang bukan orang baru. Menyusul ke posko dengan 5000 rupiah tiket kereta lokal menuju stasiun padalarang menjadi pengalaman baru lagi. Seru. Datang dengan keadaan hati yang cukup baik walaupun sebelumnya mendapatkan kejadian yang luar biasa mengagetkan. Disambut bai...

Menangis Dapat Menyelesaikan Masalah

            Masalah menjadi hal yang sering terjadi dalam hidup kita. Sebagai manusia menyelesaikan masalah adalah hal yang wajib untuk dapat meneruskan hidup. Dengan masalah yang begitu beragam, kita sering sekali tidak tahan dalam menghadapinya. Bahkan terkadang kita meneteskan air mata ketika masalah itu membuat diri kita tidak berdaya. Beberapa orang beranggapan menangis adalah tindakan bodoh, dan berkata bahwa menangis tidak dapat menyelesaikan masalah. Faktanya sekitar 89% orang merasa lebih baik sesaat setelah menangis. Beberapa ahli mengatakan air mata yang dihasilkan karena emosi mengandung 24% protein albumin yang berguna meregulasi sistem metabolisme tubuh, dan dapat meningkatkan mood seseorang. Terlalu banyak kadar mangan juga dapat meningkatkan kecemasan, kegelisahan, lekas marah, kelelahan, dan perasaan negatif lainnya. Menangis menurunkan kadar mangan tersebut, dan membuat seseorang lebih merasa tenang. Menangi...

Hubungan persahabatan itu lebih ribet dari pada pacaran tapi tidak akan sekental darah

Bukannya ga menikmati lingkaran pertemanan ini, cuman lebih ribet harus menyesuaikan diri dengan lebih dari 1 orang. Belum menjaga perasaannya, jadi jika sakit hati pun sakitnya berlipat. Apa efek baper berkepanjangan? Tapi saking panjangnya sampe ga ada ujungnya. Apa efek karakter yg ga bisa menyesuaikan? Tapi masa cuma sendiri yg harus berjuang. Dikiranya ga akan ada yg namanya pilih kasih, tapi ternyata kerasa banget. Bilangnya ga suka kalo ada yg baper melebihi status teman tapi seperti sekedar bacotan. Pada akhirnya cuma kalimat ini yg terlintas "ah sudahlah, aku masih punya Allah dan keluarga yg lebih pantas aku pikirkan." Bukannya tidak peduli tapi air tidak akan pernah menjadi sekental darah. Bukannya tidak senang, malah akan selalu bersyukur atas semua karunia ini apapun bentuknya.