Langsung ke konten utama

Viral menentukan Moral Bangsa, dimulai dari Nurrani, Bowo hingga Fitur Question di Instagram

Apa hubungannya Viral sama Moral Bangsa?
Banyak yah yang mengait-ngaitkannya, seolah memang sedang menjadi kebiasaan saat ini. Segala sesuatu yang sedang banyak dibicarakan selalu disangkut pautkan dengan moral bangsa. Well, gak salah sama sekali sih. Malah emang bener bahwa apa yang tersebar luas memang akan menjadi wajah yang akan menjadi hal pertama yang dilihat bangsa lain. Tapi hal ini tidak boleh menjadikan kita selalu menganggap opini kita adalah yang paling benar. Saling mengadu opini siapa yang paling benar sampai-sampai membawa hal-hal yang sensitif seperti agama malah akan menambah buruk keadaan.

Mungkin yang sedang viral kemarin dan membuat saya gyemash ini adalah 3 hal berturut-turut yang membuat saya semakin lelah menjadi netizen, hahah. Yang pertama adalah viralnya Nurrani yang memiliki dunia halunya sebagai istri Iqbal pemeran Dilan. Maaf yah bilang dunia halu soalnya saya juga punya dunia halu sendiri kok sebagai istri Yang Yoseob :) oke cukup, lanjuuut..
Pasti sudah pada tahu tentang ini dong, hal yang membuat ini terangkat lagi adalah ketika Nurrani diundang dalam suatu program televisi nasional. Sontak hal tersebut meramaikan dunia maya yang penuh dengan kekejaman. Banyak yang mengangkat gagasannya dengan menyebutkan kata-kata yang tentunya tidak dapat dengan mudah diterima dengan hati. Kata-kata yang dengan brutalnya mengumbar kebencian. Oke, satu sisi kalian benar, amat sangan terlihat cerdas dengan membandingkan dia dengan karya anak bangsa yang tentunya lebih layak dijadikan viral, atau pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang untuk bangsa. Kalian benar. Kalian cerdas. Tapi bukan berarti kalian tidak menggunakan hati untuk mengeluarkan kata-kata kasar yang dapat menjatuhkan mental seseorang yang masih memiliki masa depan yang panjang.

Kedua adalah tentang fitur terbaru dari instagram, yup fitur Question. Singkat aja, satu hari sebelumnya banyak yang menggunakan fitur ini sebagai sarana agar para followers dapar menanyakan apa saja kepada pemiliki akun. Saat menjawab pertanyaan satu persatu, mungkin story itu jatuhnya menjadi spam. Keesokan harinya banyak yang memberi klarifikasi mengenai fungsi yang sebenarnya dari fitur tersebut bahwa yang memiliki akunlah yang bertanya kepada followers sehingga dapat dijawab oleh followers melalui fitur tersebut. Well, kalian bener dan keterangan dari instagramnya sendiripun seperti itu. Tapi yang menjadi fokus kegyemashan saya adalah cara kalian membenarkan kesalahan tersebut. Kembali pada kata-kata yang kalian gunakan penuh dengan kebencian. Apa kalian gak sadar banyak dari followers dan following kita adalah teman atau keluarga kita sendiri? Ketika kalian tahu bahwa following kalian salah dalam menggunakan fitur, dan kalian mengejek atas kesalahan following kalian dengan membuat story untuk followers kalian. So, just thinking about it by yourself. Lagi pula kalo menurut saya fitur itu dapat digunakan sebebas atau sekreatif apapun oleh pemilik akun, jangan sampai kalian menjadi penghalang kreativitas oranglain. Udah lupa dulu kita dengan bangga bilang kalo orang-orang Indonesia itu kreatif?

Next, ketiga adalah tentang artis tiktok Bowo. Well, saya gak begitu tau tentang Bowo ini, tetapi yang membuat saya gyemash adalah komentar para (kalo kata pandji) "Netizen Alay" yang menghujat (lagi dan lagi) dengan kata-kata yang mengumbar kebencian, membully sampai bilang ingin berbuat kriminal terhadap Bowo. Guys, teman-teman netizen yang saya hormati, Bowo masih 13 tahun. Kalian gak mikir tentang resiko jangka panjang yang akan dia alami ketika dia beranjak dewasa? Oke mungkin ada yang salah mengenai meet and greet secara teknis atau hal ini tidak begitu banyak memberikan pelajaran positif atau apalah, tapi sekali lagi ketika anak 13 tahun membaca ribuan komentar dengan nada menghujat tentu akan ada efek terhadap mental mereka.

Jadi sebenarnya dari ketiga hal tersebut saya sama sekali tidak membahas mengenai moral bangsa yang terpengaruh secara langsung terhadap kejadian atau orang-orang yang viral tersebut. Jika kalian bilang Nurrani dan Bowo merusak moral dari generasi muda Indonesia, bagaimana dengan anda sebagai netizen? Kenapa mereka bisa menjadi viral jika bukan orang Indonesia sendiri yang berkali-kali menonton dan membahas mengenai ini? Menyalahkan televisi nasional? Come on guys, kepentingan commercial. Kenapa hal-hal yang kalian sebut g*blok  ini bisa menjadi viral kalau pembicaraan atau gagasan kalian bisa lebih fokus terhadap hal yang lebih bisa membanggakan? Begitu banyak rakyat Indonesia yang menggunakan sosial media, apa semua netizen yang berkomentar atau memberikan gagasan memiliki moral yang baik?

Dari ketiga hal diatas sering saya katakan sangat gyemash terhadap penggunaka kata-kata yang dapat menyakiti oranglain. Kata-kata yang mungkin kalian memiliki tujuan untuk memperbaiki atau membangun tetapi dengan gaya yang tidak akan mudah diterima oleh oranglain. Disini saya tidak maksud menggurui atau membela salah satu pihak, saya hanya mengutarakan yang ada dipikiran saya yang menjadi kegelisahan bagi saya. Karena kita tidak harus selalu fokus terhadap kebenaran atau kesalahan. Siapa yang benar atau siapa yang salah. Saya kutip dari kata-kata Fahruddin Faiz mengenai filsafat bahwa "Terminal terakhir bukan sekedar ketepatan atau kebenaran tetapi kebijaksanaan. Banyak kebenaran yang kadang-kadang jangan dilampiaskan begitu saja kadang-kadang malah merusak, maka kebijaksanaan yang dibutuhkan. Filsafat tidak menyuruh kamu mencintai kebenaran tapi cintailah kebijaksanaan."

Cukup menyalahkan oranglain dalam berbagai masalah, ketika kita sendiri bijak dalam menggunakan sosial media, saya yakin Moral Bangsa juga akan lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menangis Dapat Menyelesaikan Masalah

            Masalah menjadi hal yang sering terjadi dalam hidup kita. Sebagai manusia menyelesaikan masalah adalah hal yang wajib untuk dapat meneruskan hidup. Dengan masalah yang begitu beragam, kita sering sekali tidak tahan dalam menghadapinya. Bahkan terkadang kita meneteskan air mata ketika masalah itu membuat diri kita tidak berdaya. Beberapa orang beranggapan menangis adalah tindakan bodoh, dan berkata bahwa menangis tidak dapat menyelesaikan masalah. Faktanya sekitar 89% orang merasa lebih baik sesaat setelah menangis. Beberapa ahli mengatakan air mata yang dihasilkan karena emosi mengandung 24% protein albumin yang berguna meregulasi sistem metabolisme tubuh, dan dapat meningkatkan mood seseorang. Terlalu banyak kadar mangan juga dapat meningkatkan kecemasan, kegelisahan, lekas marah, kelelahan, dan perasaan negatif lainnya. Menangis menurunkan kadar mangan tersebut, dan membuat seseorang lebih merasa tenang. Menangi...

Kuliah Kerja N..gapain aja sih?

KKN bersama 10 orang satu jurusan yang sama tetapi beda pergaulan ini memang tak perlu lagi adanya pdkt, hanya butuh sedikit penyesuaian dengan lingkungan. Yang dikhawatirkan adalah mood ini yang tidak bisa selalu diajak kompromi selama 40 hari dengan orang-orang yang selama ini mungkin tidak terlalu mengenali kemoodyan dan besarnya kegengsian ini. 9 orang berangkat tepat setelah pelepasan di kampus, berbeda denganku yang harus terlebih dahulu membantu pelaksanaan pertandingan bulutangkis dikampus. Baru mulai sudah menghabiskan jatah izin 4 hari, tak ada senang atau sedih yang pasti tak ada pilihan lain. Menepati janji teman untuk membantu pelaksanaan hajat besar ukmnya itu menjadi rasa tidak enak terhadap teman-teman KKN yang bukan orang baru. Menyusul ke posko dengan 5000 rupiah tiket kereta lokal menuju stasiun padalarang menjadi pengalaman baru lagi. Seru. Datang dengan keadaan hati yang cukup baik walaupun sebelumnya mendapatkan kejadian yang luar biasa mengagetkan. Disambut bai...

Narative "The Legend of Malin Kundang"

  Pasti udah biasa kalo disekolah bahasa inggris belajar tentang narative, waktu SMP saya pernah disuruh untuk mencari sebuah narative. Narative dibawah ini yang berjudul 'The Legend of Malin Kundang' menjadi pilihan saya. The Legend of Malin Kundang             A long time ago, in a small village near the beach in West Sumatra, a women and her son lived. They were Malin Kundang and her mother. Her mother was a single parent because Malin Kundang’s father had passed away when he was a baby. Malin Kundang had to live hard with his mother. Malin Kundang was a healthy, diligent, and strong boy. He usually went to sea to catch fish. After getting fish he would bring it to his mother, or sold the caught fish in the town. One day, when Malin Kundang was sailing, he saw a merchant’s ship which was being raided by a small band of pirates. He helped the merchant. With his brave and power, Malin Kundang defeated the pirates...